
Digital Fortress (Benteng Digital)
Dan Brown
PT Serambi Ilmu Semesta
Edisi Soft Cover
Bahasa
567 halaman
‘Quis custodiet ipsos custodes’
(siapa yang akan mengawasi sang pengawas)
Sepertinya Digital Fortress atau Benteng Digital adalah novel ketiga Dan Brown yang telah diterjemahkan oleh Serambi, juga merupakan novel ketiga Dan brown yang saya miliki tetapi justeru yang pertama kali saya baca. Aneh rasanya apabila menyebut nama Dan Brown tanpa mengulas sedikit tentang The Da Vinci Code, Ia adalah penulis novel yang telah menelurkan sebuah novel fenomenal The Da Vinci Code dan telah dinobatkan sebagai penulis buku terlaris abad ini. Bahkan novel fenomenal itu pun telah di filmkan dengan Tom Hanks dan si Cantik Audrey Tatou sebagai leading actors nya. Untuk filmnya tentu saja saya sudah menontonnya di 21.
Tidak jauh berbeda dengan novel terdahulunya, kali ini lagi-lagi Dan Brown banyak bermain dengan sandi, kode, atau ilmu kriptografi. Dengan alur yang sederhana, lamban, rumit, detil dan sedikit menegangkan, novel ini diakhiri dengan multiple klimaks, ketegangan yang berulang. Rupanya itu sudah menjadi ciri khas dari Brown.
Digital Fortress mempunyai seorang tokoh cantik bak malaikat dan genius, Susan Fletcher, kegeniusannya menjadikannya sebagai kepala kriptogafer di NSA, sebuah lembaga rahasia di US. Tetapi kegeniusannya justeru mengantarkan Susan pada sebuah konspirasi terbesar dan berbahaya. Sebuah kode yang diciptakan oleh seorang kriptogafer Jepang yang memiliki dendam terhadap US, telah memporak poranda sistem keamanan US. Kode pamungkas, kuat, berbahaya dan tak terpecahkan harus dihadapi oleh Susan, demi keamanan negara tentunya, walaupun nyawa sang kekasih menjadi taruhannya.
Buku ini boleh juga, sedikit mengajarkan saya bagaimana berbahasa sandi. Jadi selain menghibur, sedikit ilmu kriptografi bisa kita peroleh. Apalagi Dan Brown sepertinya sengaja dengan begitu saja menyertakan sebuah kode sandi angka di halaman belakang buku ini, tertarik memecahkannya? Baca saja, tapi kalau saya, belum tertarik, kecuali ada hadiah gratis novel Dan Brown seumur hidup =p
Digital Fortress - Dan Brown
Monday, August 07, 2006 | at 6:51 PM 4 comments
Labels: fiksi
Bordir - Marjane Satrapi
Embroideries
Novel Grafis
Marjane Satrapi
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Gramedia Pustaka Utama
Dewasa
Bahasa
136 halaman
19 cm
“membicarakan orang di belakang punggung mereka berguna untuk melepaskan unek-unek’
Membicarakan orang, itulah rutinitas Marji dan neneknya dan teman-teman neneknya disaat acara samovar siang sampai malam tiba. Dari ritual samovar itu mengalirlah cerita-cerita (atau lebih pasnya disebut acara ngegosip) yang menarik seputar perempuan dalam hubungan dengan lelaki, khususnya perempuan-perempuan timur tengah lebih tepatnya Iran, yang dari luar tampak ‘aku baik-baik saja’ tetapi ternyata menyimpan segudang kejutan, yang mengalir begitu saja sampai tak terasa setiap halaman sudah selesai saya cubiti.
‘Kau harus sangat berhati-hati dalam memilih calon suami. Jangan menikah mengandalkan hatimu, pakai otakmu’
‘Jangan dengarkan dia! Kau mesti menikah dengan orang yg kaucintai. Aku menikah karena dijodohkan. Akibatnya? Aku tidak pernah tahu arti cinta, sebab cinta adalah lawan akal sehat.’
‘Pernikahan itu seperti main judi; kadang-kadang menang, seringkali kalah. Meski kau sangat mencintai pasanganmu, belum tentu hasilnya selalu bagus.’
‘Ya tapi sementara menunggu pernikahan itu memburuk, kau bisa merasakan kebahagian’
‘Tidak ada gunanya menikah!’
Segar penuh kontroversial, begitulah kiranya kesan saya terhadap novel grafis dewasa karya Marji, atau Marjane Satrapi ini, seorang perempuan kelahiran Iran yang tinggal di Paris. Bisa saja cerita novel setebal 136 halaman ini diilhami oleh kisah kehidupan pribadi sang penulis, karena nama tokohnya seolah-olah memakai nama keluarga Marjane sendiri.
‘...kau sadar, tidak? Pakaian-pakaian kotornya, pakaian dalamnya yang menjijikan, urusan menyetrika sehari-hari, napasnya yang bau, wasirnya yang kadang-kadang kumat, batuk pileknya, belum lagi suasana hatinya kalau sedang buruk..dan marah-marahnya...semua itu untuk istrinya. Saat laki-laki sudah beristri mendatangi pacar gelapnya... pakaiannya selalu licin dan rapi, giginya putih cemerlang, napasnya wangi..suasana hatinya selalu bagus, dia senang bercakap-cakap, dia akan bilang padamu: kau cantik dan cerdas..bersamamu aku tidak pernah bosan...kau luar biasa...mutiara yang langka....dia datang untuk bersenag-senang denganmu’
Dikemas dengan gambar sederhana berwarna hitam putih dan mengena, novel ini tetap mudah dinikmati. Marjane dengan mudahnya membuat saya terhibur, cekikikan sendiri membacanya.
‘Aku bisa mengerti kau menangisi perhiasan-perhiasanmu. Tidak setiap hari kau diberi hadiah emas berkilo-kilo. Tapi mengenai keperawananmu.. berhubung kau sudah menikah dan bercerai, wajar saja kau tidak perawan lagi! Sekarang kau bisa bercinta dng siapa pun yg kau inginkan, dan tidak bakal ada yang tahu! Kan tidak ada meteran di bawah sini!’
Selebihnya baca sendiri aja deh...dijamin, terbengong-bengong, senyum senyum, ketawa-ketiwi, dan cekikikan gak jelas...

Wednesday, July 26, 2006 | at 1:04 PM 0 comments
Saya Terbakar Amarah Sendirian-Andre Vltchek & Rossie Indira
Saya Terbakar Amarah Sendirian
Pramoedya Ananta Toer dalam perbincangan dengan Andre Vltchek & Rossie Indira
Andre Vltchek dan Rossie Indira
KPG
Cetakan Pertama, Januari 2006
Bahasa
131 halaman
Soft Cover
Pramoedya Ananta Toer dalam perbincangan dengan Andre Vltchek & Rossie Indira
Andre Vltchek dan Rossie Indira
KPG
Cetakan Pertama, Januari 2006
Bahasa
131 halaman
Soft Cover
‘Jawanisme adalah taat dan setiap kepada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme. Kita namakan fasisme jawa saja ya, dan sistem ini tumbuh dan berkembang dengan sangat subur pada masa Soeharto’
‘Bukan, saya bukan Marxis, tapi “Pramis” (tertawa). Saya tidak pernah menganut suatu ajaran apapun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Belajar dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan kesetaraan sosial’
Pramis! Sungguh suatu ajaran yang tidak biasa, kontroversial untuk pemikiran saya. Ketidaksukaan Pram akan jawanisme-walau Pram orang jawa-budaya yang menganut paham ‘apa kata’ atasan. Indonesia yang tidak memiliki budaya tradisional. Dan kekecewaannya terhadap tuhan membuat Pram tidak percaya lagi akan Tuhan, penderitaannya selama menjadi tapol. Semua tertuang dengan gamblang, lugas, tanpa tedeng aling-aling oleh bung Pram sendiri di buku ini.
‘kebudayaan Indonesia yang kaya? Omong kosong, saya tidak setuju! Kebudayaan Indonesia sangatlah miskin. Mana yang disebut budaya Indonesia? Budaya Indonesia yang sebenarnya belum lahir’
‘menurut saya, agama hanya mengajarkan orang untuk mengemis, karena berdoa kan sama saja dengan mengemis, tapi mungkin akan banyak orang yang tersinggung dengan pandangan saya ini’
Ditulis oleh Andre Vltchek, orang Amerika, penulis, analis politik dan pembuat film asal amerika, dan Rossie Indira, seorang arsitek yang juga seorang penulis di harian The Jakarta Post dan Gatra.
Buku ini hampir menguak semua misteri yang terjadi di tahun 1965 dan menjawab semua pertanyaan yang ada dipikiran saya tentang kisah penulis terbesar Indonesia, Bung Pram, tetapi juga sekaligus menimbulkan pertanyaan baru yang ingin saya tanyakan pada beliau, hanya sayang...banyak sayang...
‘ sampai sekarang, setiap malam mimpi saya buruk terus. Saya akan sangat senang kalau semalam saja tidak mimpi buruk. Mimpi buruk ini bisa dalam berbagai bentuk. Kadang saya sedang diuber-uber militer, kadang saya sedang dianiaya. Bentuk mimpi yang tidak terlalu buruk adalah dalam bentuk kerja paksa. Tapi semua ini tidak pernah hilang’
Sungguh memilukan kisahnya, pantas saja Bung Pram memiliki hobi membakar sampah setiap paginya. Buku ini membuka satu lagi mata hati saya.
‘tapi kalau saya berpikir tentang Indonesia, saya merasa kebakaran sendiri, dan hal ini tidak pernah hilang’

Monday, May 29, 2006 | at 8:12 AM 0 comments
Labels: non fiksi
Subscribe to:
Posts (Atom)





